Gunung Dukono bukan tempat menantang maut
Evakuasi paksa terhadap belasan pendaki, jatuhnya satu korban jiwa, serta dua pendaki lain yang masih dalam pencarian menjadi gambaran pahit dari erupsi Gunung Dukono di Pulau Halmahera, Maluku Utara.
Peristiwa itu menunjukkan besarnya ancaman bencana yang mengintai di kawasan gunung api aktif, terutama ketika aktivitas vulkanik meningkat sewaktu-waktu.
Padahal, Dukono bukan gunung yang meletus secara tiba-tiba tanpa memunculkan tanda alam terlebih dahulu sebagai peringatan awal sebelum terjadinya erupsi besar.
Sejak 11 Desember 2024, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah merekomendasikan agar manusia tidak melakukan aktivitas di dalam radius empat kilometer dari pusat vulkanik aktif kawah Malumpang Warirang.
Wisata pendakian pun ditutup sejak 17 April 2026, lantaran aktivitas magmatik dan vulkanik yang meningkat pesat. Zona empat kilometer dari kawah menyimpan ancaman langsung berupa lontaran batu pijar dan sebaran abu vulkanik.
Kolom erupsi berintensitas tebal dengan ketinggian sepuluh kilometer di atas puncak Gunung Dukono merupakan hal lumrah yang kerap terjadi di gunung-gunung berapi aktif mengingat Indonesia secara geografis berada di wilayah cincin api dunia.
Sepanjang tahun 2025, Dukono yang memiliki ketinggian 1.355 meter di atas permukaan laut masuk ke dalam jajaran empat besar gunung paling aktif meletus setelah Gunung Semeru, Gunung Ibu, dan Gunung Lewotobi Laki-laki.
Peringkat empat besar secara nasional menandakan gunung dengan status Level II atau Waspada tersebut bukan arena adrenalin untuk menantang maut, melainkan destinasi alam yang harus selalu dihormati dan diwaspadai oleh manusia.
Gunung Dukono juga menduduki klasifikasi Tipe A lantaran memiliki catatan sejarah letusan sejak tahun 1.600 hingga sekarang. Karakteristik letusan bersifat intermiten dan seringkali tidak disertai dengan gempa vulkanik dalam yang kuat.
Aktivitas mendaki gunung bukanlah soal menaklukkan alam, namun memahami batas manusia di hadapan alam. Keselamatan harus menjadi prioritas utama di atas ego petualangan.
Pasca pandemi Covid-19 yang tidak lagi membatasi ruang gerak manusia untuk beraktivitas di luar rumah, intensitas pendakian ke Gunung Dukono meningkat signifikan akibat banyak video viral yang memperlihatkan detik-detik erupsi dari bibir kawah.
Kehadiran media sosial yang menampilkan cerita-cerita dramatis terkait pendakian gunung berapi aktif menimbulkan budaya takut ketinggalan atau fear or missing out (FOMO), sehingga menumbuhkan tren wisata pendakian ekstrem.
0 Response to "Gunung Dukono bukan tempat menantang maut"
Posting Komentar