Hina Saudi, Menteri Kepercayaan Netanyahu Tertekan, Akhirnya Minta Maaf
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, membuat pernyataan kontroversial dengan menyindir Arab Saudi harus "terus menunggang unta" jika bersikeras meminta pembentukan negara Palestina sebagai syarat normalisasi hubungan dengan Israel.
Dalam sebuah konferensi, politisi sayap kanan ini secara terang-terangan menolak ide pembentukan negara Palestina dengan nada merendahkan. Pernyataan ini langsung memicu gelombang kecaman baik dari dalam maupun luar negeri.
Dengan retorika yang provokatif, Smotrich menyatakan bahwa Israel tidak membutuhkan normalisasi dengan syarat-syarat seperti itu. "Teruslah menunggang unta di atas pasir gurun Saudi; kita akan terus berkembang dengan ekonomi dan negara kita," katanya.
Bahkan dengan lebih tegas ia menambahkan bahwa "entitas yang disebut Negara Israel" tidak akan pernah mendirikan negara Palestina, menunjukkan penolakan mutlak terhadap solusi dua negara yang didukung komunitas internasional.
Akibat tekanan yang meluas, Smotrich akhirnya mengeluarkan permintaan maaf melalui pernyataan video. Ia menyebut ucapannya sebagai "pernyataan yang tidak menguntungkan" dan menyatakan penyesalan atas segala pelanggaran yang mungkin ditimbulkannya.
Namun, permintaan maaf ini dianggap banyak kalangan sebagai langkah terpaksa setelah kerusakan diplomatis sudah terlanjur terjadi, sebagaimana diberitakan TRT World.
Reaksi keras datang dari berbagai politisi Israel sendiri. Pemimpin Oposisi Yair Lapid dengan cepat membedakan posisi pemerintah dengan menyatakan bahwa "Smotrich tidak mewakili Negara Israel" dalam pesan berbahasa Arab yang jelas ditujukan untuk audiens regional.
Sementara Benny Gantz, mantan menteri pertahanan, mengecam komentar tersebut sebagai cerminan "ketidaktahuan dan kurangnya rasa tanggung jawab".
Pernyataan Smotrich ini konsisten dengan rekam jejak politiknya yang ekstrem. Sebagai penghuni permukiman ilegal di Tepi Barat, ia secara konsisten menyerukan aneksasi wilayah Palestina dan melanjutkan perang di Gaza.
Insiden ini memperlihatkan bagaimana sikap radikal dalam pemerintahan Israel dapat mengancam hubungan diplomatik dan prospek perdamaian di kawasan.
Kontroversi Bezalel Smotrich
Bezalel Smotrich bukan sekadar menteri keuangan biasa, melainkan tokoh dengan ideologi ekstrem yang secara terbuka memperjuangkan "Israel Raya" dari sungai Yordan hingga laut Mediterania. Sebagai pemimpin Partai Religious Zionism, ia memandang Tepi Barat (yang ia sebut dengan nama Alkitabiah Yudea dan Samaria) sebagai tanah leluhur Yahudi yang tak terpisahkan. Visinya tentang Israel mencakup kedaulatan penuh atas seluruh wilayah Palestina yang diduduki, menjadikannya salah satu arsitek utama kebijakan pemukiman dan aneksasi.
Dia secara aktif mendorong ekspansi pemukiman ilegal dengan mengalokasikan dana pemerintah secara masif. Bahkan setelah ditunjuk sebagai menteri keuangan, ia tetap memegang kendali signifikan atas administrasi sipil di Tepi Barat melalui kesepakatan koalisi.
Di bawah kepemimpinannya, pembangunan pemukiman dipercepat, outpost ilegal dilegalisasi, dan infrastruktur pemukiman ditingkatkan—sebagai strategi untuk menciptakan "fakta di lapangan" yang membuat pendirian negara Palestina menjadi mustahil.
Ancaman Nyata
Selama perang di Gaza, Smotrich menjadi salah satu suara paling lantang di kabinet Netanyahu. Ia berulang kali menentang gencatan senjata, mendorong invasi darat yang lebih dalam, dan membuat pernyataan yang ditafsirkan banyak pihak sebagai dukungan terhadap pembersihan etnis.
Dalam salah satu pernyataannya yang paling kontroversial, ia menyebut warga Palestina sebagai "ancaman nyata" yang harus ditangani dengan tangan besi, memicu kecaman dari organisasi HAM internasional.
Smotrich memiliki sejarah panjang pernyataan rasis dan provokatif. Pada 2021, ia menyatakan "orang Arab Israel bukan warga negara sejati" dan menentang kesetaraan hak. Pada 2023, pidatonya yang menyebut desa Palestina Huwara "harus dihapus" oleh warga sipil Israel menuai kecaman global.
Kebijakan dan retorika Smotrich telah berkontribusi signifikan terhadap isolasi internasional Israel. Pernyataannya yang menolak solusi dua negara secara terang-terangan bertentangan dengan konsensus global, sementara dukungannya terhadap pemukiman ilegal membuat banyak negara menjatuhkan sanksi.
Bahkan sekutu tradisional Israel seperti AS mulai menunjukkan ketidaksabaran, dengan beberapa anggota Kongres menyebut Smotrich sebagai "rintangan bagi perdamaian".
Figur Smotrich merepresentasikan pergeseran Israel ke kanan yang lebih radikal. Meski tinggal di pemukiman ilegal dan memegang pandangan ekstrem, ia justru menduduki posisi strategis dalam pemerintahan.
Kebijakannya tidak hanya memperdalam pendudukan atas Palestina, tetapi juga mempolarisasi masyarakat Israel sendiri, di satu sisi didukung pemukim dan nasionalis-religius, di sisi lain dikritik habis-habis oleh oposisi dan aktivis perdamaian sebagai ancaman bagi masa depan demokrasi Israel.
Alasan Netanyahu Butuh Smotrich
Terlepas dari berbagai kontroversinya, Netanyahu membutuhkan dukungan Bezalel Smotrich untuk mempertahankan mayoritas dalam pemerintahan koalisi yang rapuh, yang sering dianggap sebagai pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.
Partai Zionisme Religius pimpinan Smotrich, bersama dengan partai sayap kanan lainnya seperti Otzma Yehudit, memegang kursi-kursi penting di parlemen (Knesset) yang sangat krusial bagi kelangsungan pemerintahan Netanyahu. Jika Smotrich dan mitranya, Itamar Ben-Gvir, menarik diri dari koalisi, Netanyahu akan kehilangan mayoritasnya di Knesset, yang bisa berujung pada runtuhnya pemerintahan dan digelarnya pemilihan umum baru.
Ketergantungan politik ini memberikan pengaruh yang sangat besar kepada Smotrich, yang sering menggunakan posisinya untuk mendorong agenda politik sayap kanan ekstrem, seperti perluasan permukiman di Tepi Barat dan menentang gencatan senjata di Gaza.


0 Response to "Hina Saudi, Menteri Kepercayaan Netanyahu Tertekan, Akhirnya Minta Maaf"
Posting Komentar